Konchichiwa...
Malam menyapu segala perih...
Namun waktu tak mampu menyerap kenangan...
Masa depan justru menyiksaku...
Tatap tawa ini palsu...
Alasan sudah lenyap...
Hati menguasaiku...
Kegembiraan hapus sakit...
Namun tak menghilangkan nodanya...
Bekas yang ada...
Mampu tumbuh dan menyakitiku...
Dia mampu menghancurkanku...
Meruntuhkanku...
Membuatku jatuh...
Dan bertekuk lutut...
Saat ku terpuruk...
Sayap-sayap itu muncul...
Pelan dan lembut...
Menyeka air mataku...
Dirimu...
Meraihku dengan lembut...
Menatapku dengan cinta...
Dan berbahasa sayang...
Aku masih menoleh...
Aku masih berharap...
Bahkan kulukai dirimu...
Namun mengapa kau masih disini...
Saat itu...
Dirimu dibelakangku...
Kau mendorongku...
Untuk berani...
Namun kali ini berbeda...
Kini dirimu dihadapku...
Melindungi aku dari luka itu...
Menguatkanku tuk tak kembali terluka...
Aku egois...
Ingin dirimu menemaniku...
Tetap disisiku...
Tanpa mampu hadirkan ruang bagimu...
Ku tak pantas dinanti...
Kau terlalu manis...
Terlalu baik...
Ku tak pantas untukmu...
Jauhi diriku...
Dengan segala harapku...
Suatu saat setiamu akan berbalas...
Namun bukan dengan aku...
Maafkan aku...
Ku tak mampu menyakitimu lebih dalam lagi...
Jaa Mata...
Thursday, 15 July 2010
Maaf...
Bosan...
Konchichiwa...
Aku bosan dengan kerutinan ini,
Dengan segala kepura-puraannya,
Dengan harapan yang selalu menengadah ke atas,
Aku rindu hari itu,
Hari dimana aku tak berharap,
Namun nikmati setiap detiknya,
Dengan rasa takut berakhir,
Aku ingin rasa itu,
Rasa senang yang diselimuti gengsi,
Dan diam yang sangat nikmat,
Yang berakhir dengan tanya,
"Kapan lagi??",
Nafas yang tak normal,
Detak yang tanpa ritme,
Dan kejadian yang tak mampu diramalkan,
Penuh dengan tanda tanya,
Hanya itu yang aku inginkan,
Bukan rasa ini,
Bukan aku yang ini,
Dan bukan mereka yang ini,
Hanya mampu berhayal,
Menanti waktu yang serasa seabad,
Dan menahan diri,
Dalam jebakan hati ini,
Tiap kata kuhayalkan,
Dalam tiap hayal,
Menambah rasa ingin,
Di tiap rasa ingin,
Sering mengacaukanku,
Menerbangkan anganku,
Dan meninggalkan tubuhku disini,
Aku tak mampu menunggu lagi,
Sebab waktu ini seakan berjalan mundur,
Dan aku semakin rindu...
Jaa Mata...
Cinta...Dendam...Dusta...
Konchichiwa...
Aku ditinggal cinta...
Dilupakan cinta...
Dihianati cinta yang bukan dari cinta...
Aku melihat derita...
Dari mata wanita itu...
Yang berusaha menenangkan aku...
Yang menahan air mata...
Tapi tak mampu tutupi...
Segala rasa curiga...
Aku sakit batin...
Aku sakit jiwa...
Menahan dendam pada dia...
Dia yang menyakitiku dan wanita itu...
Dia yang menghianatiku...
Membeli kasih dengan uang...
Berdusta dengan kata-kata manis...
Dan mengaku cinta...
Biar mati saja...
Biar dendam saja...
Biar hilang harap...
Karena berfikir baik pun tak berguna...
Hanya karena dendam atas dusta...
Jaa Mata...
Thursday, 15 July 2010
Maaf...
Konchichiwa...
Malam menyapu segala perih...
Namun waktu tak mampu menyerap kenangan...
Masa depan justru menyiksaku...
Tatap tawa ini palsu...
Alasan sudah lenyap...
Hati menguasaiku...
Kegembiraan hapus sakit...
Namun tak menghilangkan nodanya...
Bekas yang ada...
Mampu tumbuh dan menyakitiku...
Dia mampu menghancurkanku...
Meruntuhkanku...
Membuatku jatuh...
Dan bertekuk lutut...
Saat ku terpuruk...
Sayap-sayap itu muncul...
Pelan dan lembut...
Menyeka air mataku...
Dirimu...
Meraihku dengan lembut...
Menatapku dengan cinta...
Dan berbahasa sayang...
Aku masih menoleh...
Aku masih berharap...
Bahkan kulukai dirimu...
Namun mengapa kau masih disini...
Saat itu...
Dirimu dibelakangku...
Kau mendorongku...
Untuk berani...
Namun kali ini berbeda...
Kini dirimu dihadapku...
Melindungi aku dari luka itu...
Menguatkanku tuk tak kembali terluka...
Aku egois...
Ingin dirimu menemaniku...
Tetap disisiku...
Tanpa mampu hadirkan ruang bagimu...
Ku tak pantas dinanti...
Kau terlalu manis...
Terlalu baik...
Ku tak pantas untukmu...
Jauhi diriku...
Dengan segala harapku...
Suatu saat setiamu akan berbalas...
Namun bukan dengan aku...
Maafkan aku...
Ku tak mampu menyakitimu lebih dalam lagi...
Jaa Mata...
Bosan...
Konchichiwa...
Aku bosan dengan kerutinan ini,
Dengan segala kepura-puraannya,
Dengan harapan yang selalu menengadah ke atas,
Aku rindu hari itu,
Hari dimana aku tak berharap,
Namun nikmati setiap detiknya,
Dengan rasa takut berakhir,
Aku ingin rasa itu,
Rasa senang yang diselimuti gengsi,
Dan diam yang sangat nikmat,
Yang berakhir dengan tanya,
"Kapan lagi??",
Nafas yang tak normal,
Detak yang tanpa ritme,
Dan kejadian yang tak mampu diramalkan,
Penuh dengan tanda tanya,
Hanya itu yang aku inginkan,
Bukan rasa ini,
Bukan aku yang ini,
Dan bukan mereka yang ini,
Hanya mampu berhayal,
Menanti waktu yang serasa seabad,
Dan menahan diri,
Dalam jebakan hati ini,
Tiap kata kuhayalkan,
Dalam tiap hayal,
Menambah rasa ingin,
Di tiap rasa ingin,
Sering mengacaukanku,
Menerbangkan anganku,
Dan meninggalkan tubuhku disini,
Aku tak mampu menunggu lagi,
Sebab waktu ini seakan berjalan mundur,
Dan aku semakin rindu...
Jaa Mata...
Cinta...Dendam...Dusta...
Konchichiwa...
Aku ditinggal cinta...
Dilupakan cinta...
Dihianati cinta yang bukan dari cinta...
Aku melihat derita...
Dari mata wanita itu...
Yang berusaha menenangkan aku...
Yang menahan air mata...
Tapi tak mampu tutupi...
Segala rasa curiga...
Aku sakit batin...
Aku sakit jiwa...
Menahan dendam pada dia...
Dia yang menyakitiku dan wanita itu...
Dia yang menghianatiku...
Membeli kasih dengan uang...
Berdusta dengan kata-kata manis...
Dan mengaku cinta...
Biar mati saja...
Biar dendam saja...
Biar hilang harap...
Karena berfikir baik pun tak berguna...
Hanya karena dendam atas dusta...
Jaa Mata...

